Skip to main content

Angin Kencang, 10 Nelayan Asal Cilacap Dihempas Gelombang Tinggi, Satu Meninggal dan Kapal Karam

Dua kecelakaan laut menimpa nelayan asal Cilacap akibat adanya gelombang tinggi pada Selasa (29/9/2020). Kecelakaan tersebut terjadi di dua tempat yang berbeda, satu di perairan Srandil dan juga di Perairan Pengandaran Povinsi Jawa Barat.

Wakil Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Cilacap Pardjo mengatakan informasi kecelakaan laut pertama, menimpa sebuah perahu jukung yang dihantam ombak besar di Perairan Srandil Kecamatan Adipala. Akibatnya satu orang nelayan meninggal dunia dan tiga orang lainnya berhasil selamat. Satu nelayan yang meninggal dunia langsung bisa dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan.

Berdasarkan hasil laporan kepada HNSI, peristiwa tersebut terjadi sekitar Pukul 10.00 WIB. Saat itu, perahu fiber jukung yang ditumpangi oleh Fajar Irawan (30), Raji Pangestu (25) Sutikno (40) dan Sudarto (60) berada di sekitar lautan tengah perairan Srandil. Tiba-tiba ombak besar menghantam perahu fiber yang ditumpangi mereka.

“Perahu jukungnya diahantam ombak besar, empat nelayan itu sudah ditemukan semuanya, tetapi tiga orang selamat dan satu orang meninggal dunia,” ujarnya.

Satu nelayan yang meninggal dunia yakni Sudarto, warga Jalan Mawar Sidakaya. Pardjo mengatakan jika Sudarto awalnnya berhasil diangkut ke atas perahu, akan tetapi setelah dilakukan pengecekan telah meninggal dunia. Untk memastikan, jenazah dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan.

Sementara kecelakaan berikutnya, menimpa kapal compreng Riko Jaya, yang terjadi di perairan Pengandaran Jawa Barat.

Pardjo mengatakan, jika informasi tersebut berdasarkan laporan dari Ketua Kelompok Nelayan PPC Sutarno, yang menginformasikan jika kapal yang memiliki satu orang nahkoda dan lima orang anak buah kapal (ABK) tenggelam, pada Selasa sekitar pukul 09.00 WIB.

“Alhamdulillah nahkoda dan ABK selamat, namun kapal tenggelam dan seluruh peralatan juga ikut tenggelam ke dasar laut Pengandaran,” ujarnya.

Nahkoda dan juga ABK berhasil diselamatkan oleh nelayan lainnya yang berada di sekitar lokasi kejadian. Mereka kemudian dievakuasi menuju ke Pengandaran.

“Hari ini, dari HNSI akan menjemput ABK ke Pengandaran agar bisa dibawa pulang kembali,” katanya.

Adanya dua kejadian kecelakaan di perairan ini, membuatnya menghimbau kepada nelayan untuk semakin waspada, terutama pada saat cuaca tidak bersahabat seperti beberapa hari ini. Karena adanya angin kencang, yang menyebabkan gelombang tinggi.

“Kami sudah menghimbau kepada nelayan melalui rukun nelayan apabila terjadi angin kencang untuk sementara wajtu jangan dulu berangkat, namun situasi kondisi daripada ekonomi, maka satu duaperahu berangkat, tapi sebagian besar tidak melaut,” ujarnya.

Salah satu nelayan dari Kelompok Nelayan Pandanarang, Poniman yang mengaku sudah empat hari tidak melaut, karena angin kencang dan gelombang tinggi. Padahal, kata dia saat ini masih ada beberapa komoditas ikan yang keluar, seperti udang, ikan dawah.

“Sudah empat hari tidak melaut, angin lagi kencang, bisa membahayakan,” ujarnya.

Untuk menunggu cuaca kembali bersahabat, dia pun membersihkan jaringnya dari sampah-sampah. Sehingga, nantinya bisa digunakan kembali saat melaut.

http://beritatrans.com/2020/09/30/angin-kencang-10-nelayan-asal-cilacap-dihempas-gelombang-tinggi-satu-meninggal-dan-kapal-karam/